Desputrohome's Weblog

cinta.. cita.. harapan

Archive for the month “Mei, 2010”

Payudara Tak Sehat Akibat 5 Kebiasaan Buruk

Setiap wanita ingin punya payudara yang sehat dan indah. Tetapi pada saat yang sama setiap wanita pun terkadang melakukan hal-hal yang dapat merusak kesehatan payudara.

Kebiasaan buruk tidak hanya berkontribusi pada kesehatan payudara, tetapi juga membuatnya tampak tidak indah seumur hidup.

Payudara dapat dipengaruhi oleh kehamilan, menyusui, menopause dan penuaan. Tapi Anda bisa mengurangi pengaruh negatif dengan tindakan-tindakan sederhana. Seperti dilansir dari GeniusBeauty, berikut kebiasaan buruk dan musuh yang menyebabkan payudara tak sehat:

Pertama, berat badan yang turun naik secara drastis. Berat badan naik adalah alasan terjadinya peregangan berlebihan pada kulit. Jika berat badan naik dan tiba-tiba menurun akan membuat kulit menjadi lembek dan menggeliat. Fluktuasi berat badan dapat membuat payudara tak sehat dan kehilangan bentuk idealnya.

Kedua, kebiasaan duduk yang salah. Wanita harus memerhatikan cara duduknya, karena kebiasaan buruk postural atau cara duduk yang salah menyebabkan payudara melorot. Oleh karena itu, selalu duduklah dengan benar, karena tidak hanya bermanfaat untuk tulang belakang, tetapi juga untuk kesehatan payudara.

Ketiga, ukuran bra yang tidak benar. Ketika memilih bra yang paling penting perhatikanlah ukurannya. Ukuran bra yang tidak tepat bisa membuat payudara tak sehat. Jadi pilihlah ukuran yang tepat.

Keempat, mandi berendam di air panas. Perlu diketahui bahwa air panas dapat membuat kulit kering dan tidak elastis. Maka sebaiknya hindarilah berendam air panas dalam jangka waktu yang lama.

Kelima, sinar ultraviolet. Banyak orang yang suka berjemur di pinggir pantai. Tapi ternyata hal itu bisa berbahaya bagi kesehatan payudara. Selain terbakar, berjemur juga menyebabkan payudara kehilangan elastisitasnya dan meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

(bbs)

Semoga Bermanfaat

Salam cinta..cita..harapan

Insomnia – Jangan Sepelekan Gangguan Susah Tidur

Insomnia, bagi sebagian orang mungkin sudah tak asing lagi dengan istilah ini. Syndrome insomnia adalah sebuah gangguan susah tidur yang dialami oleh seseorang. Efek yang ditimbulkan insomnia ternyata cukup banyak. Dari mulai turunnya produktivitas, kualitas hidup, meningkatnya absensi di pekerjaan, kecelakaan, kerugian dalam hidup bermasyarakat hingga dapat menimbulkan gangguan fisik dan psikiatrik.

Menurut, Dr dr Nurmiati Amir SpKJ (K) dalam di sela-sela acara Konferensi Nasional III Psikoterapi 2010 beberapa waktu lalu di Jakarta, Insomnia diartikan sebagai persepsi atau keluhan berkurangnya tidur yang ditandai oleh satu atau lebih gejala berikut yaitu kesulitan untuk tidur, terjaga dari tidur berulang kali dengan kesulitan untuk kembali tidur, terjaga dari tidur terlalu cepat (dini hari) serta tidur yang tidak memulihkan atau menyegarkan, yang berlangsung paling sedikit satu bulan.

Dipaparkan Nurmiati, ada berbagai dampak yang ditimbulkan insomnia, misalnya keletihan akibat tidak tidur yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan, tingginya absensi sehingga berkurangnya kesempatan untuk promosi, berkurangnya produktivitas, rendahnya upah serta seringnya berpindah pekerjaan. Hubungan interpersonal sering terganggu karena insomnia sering menyebabkan iritabel atau mudah tersinggung.

Insomnia juga memberi dampak terhadap kesehatan fisik lainnya misalnya terjadi peningkatan nafsu makan yang dapat mengakibatkan obesitas, diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan sistem imun, dan penurunan gairah seksual. Insomnia juga dikaitkan dengan gangguan psikologik misalnya terjadinya depresi, ansietas, dan penurunan daya ingat karena pada dasarnya tidur berguna untuk resusitasi otak dan konsolidasi daya ingat.

“Secara keseluruhan, insomnia dihubungkan dengan buruknya kualitas hidup, meningkatnya penggunaan jasa kesehatan, yang berdampak pula terhadap pengurangan finansial secara bermakna,” jelas Nurmiati.

Tiga Tipe Insomnia

Lebih jauh, Nurmiati menjelaskan, insomnia terbagi atas tiga tipe. Pertama transien insomnia yaitu kesulitan tidur berlangsung kurang dari seminggu yang disebabkan oleh stresor akut, perubahan dalam sirkadian, jet lag dan shift work. Kedua, insomnia jangka pendek, berlangsung selama 1-4 minggu karena stresor yang berlangsung terus, penyakit akut dan obat-obatan. Dan ketiga insomnia kronik yaitu yang berlangsung lebih dari 4 minggu dan disebabkan oleh gangguan kimia otak atau hormon serta gangguan psikiatri.

“Insomnia disebabkan oleh gangguan kimia otak, hormon (stresor, hormon pertumbuhan, dan melatonin), sistem imun (interleukin-6 TNF), gangguan psikiatrik ansietas, depresi, ketergantungan zat, kondisi medik lainnya misalnya asma, reumatologi, menopause, inkontinensia, obat-obatan misalnya teofilin, beta bloker, dan antidepresan. Insomnia terkait dengan morbiditas dan beban kesehatan masyarakat,” papar Nurmiati secara detail.

Berdasarkan survei yang ada, prevalensi insomnia yang terjadi di Amerika mencapai 60-70 kasus orang dewasa. Tipe kasus transient insomnia terjadi pada 25-35 % dari populasi Amerika (lasts only a few days), sementara itu kasus chronic insomnia mencapai 10-15%. Di mana tingkat kejadian semakin tinggi seiring dengan proses penuaan. Di Indonesia, prevalensi insomnia sekitar 10 persen, yang berarti 28 juta orang dari total 238 juta penduduk Indonesia menderita insomnia.

“Langkah pertama dalam penatalaksanaan insomnia adalah menilai pasien secara lengkap, baik fisik atau psikologik. Pemeriksaan fisik misalnya, apakah ada hipertensi, rematoid artritis, gangguan hormonal, dll, pemeriksaan laboratorium ( kolesterol, gula darah, fungsi ginjal, dll) karena gangguan fisik dapat menyebabkan insomnia,“ lanjut Dr Nurmiati.

Harus Segera Diobati

Selain itu, sambungnya, pemeriksaan psikologik misalnya depresi, ansietas, gangguan kepribadian perlu pula dilakukan. Penyakit fisik atau psikologik yang mendasari insomnia harus diobati. Selanjutnya, terapi farmakologi, misalnya obat-obatan yang efektif dan aman (tidak menimbulkan ketergantungan) untuk mengatasi insomnia dapat diberikan. “Selain terapi farmakologi, terapi nonfarmakologi, misalnya Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dapat pula diberikan karena terapi ini dapat merubah perilaku dan kognisi sesorang terkait dengan tidur,” kata Dr Nurmiati.

Ditambahkan, Nurmiati, penerapan CBT membutuhkan waktu lama, sedangkan pasien memerlukan hasil terapeutik yang segera dirasakan manfaatnya. Meskipun demikian, CBT sangat bermanfaat untuk mempertahankan manfaat terapeutik yang telah dicapai. Oleh karena itu, kombinasi antara farmakoterapi dan CBT lebih baik daripada hanya farmakoterapi atau CBT.

“Meningkatkan higiene tidur, misalnya menghindari kopi, nikotin, alkohol sebelum tidur, suasana kamar tidur yang nyaman (tidak terlalu panas, dingin, atau bising) perlu diedukasikan kepada pasien. Berbagai teknik relaksasi dapat pula diajarkan kepada pasien. Jadi kesimpulannya, terapi insomnia harus komprehensif,” paparnya.

Ada berbagai obat tidur yang tersedia saat ini. Obat tidur yang sering digunakan adalah golongan benzodiazepin (misalnya, ativan, esilgan, dan valium). Meskipun benzodiazepin bekerja cepat dan ditoleransi dengan baik, ketergantungan, gangguan memori, dan sindrom penghentian obat dapat terjadi. Selain itu, efek samping lainnya misalnya, sedasi dan gangguan kesimbangan yang dapat terjadi di siang hari bisa mengakibatkan pasien terjatuh, sering pula terjadi. Hal-hal ini harus menjadi pertimbangan dalam penggunaan obat tidur.

Saat ini ada obat baru untuk insomnia yang mekanisme kerjanya berbeda. Obat tersebut bekerja pada melatonin (M1 dan M2), kerjanya yang spesifik ini dapat mengatasi insomnia yaitu mempercepat masuk tidur, mempertahankan tidur (tidak terbangun di malam hari) dan tidak ada efek samping di siang hari misalnya, mengantuk atau penurunan memori, obat tersebut adalah Ramelteon.

Ramelteon bekerja dengan menargetkan dua reseptor melatonin pada otak, MT1 dan MT2 secara selektif. Reseptor-reseptor ini berada dalam nukleus suprakiasmatik, suatu ‘jam utama’ tubuh’, yang mengatur irama sirkadian (24 jam), termasuk di dalamnya siklus tidur-bangun.

Ramelteon telah diakui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada bulan Juli 2005 sebagai obat resep untuk gangguan tidur pertama dan satu-satunya anti insomnia yang bukan merupakan obat yang dikontrol dan tidak menunjukkan bukti terjadinya penyalahgunaan dan ketergantungan.

Di tempat yang sama, turut hadir Ketua PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI), Dr Tun Kurniasih Bastaman SpKJ (K) yang mengatakan, Psikoterapi merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang psikiater yang harus terus menerus dijaga, diperbaiki dan ditingkatkan mutunya karena sebagai profesi yang menolong orang yang sedang menderita seorang psikiater tetap saja memiliki keterbatasan.

(bbs)

Semoga bermanfaat

Salam cinta..cita..harapan

Misteri Hubungan Telepatik Saudara Kembar

Anda tentu sering mendengar adanya hubungan batin yang kuat pada saudara kembar. Jika yang satu sakit, yang lain juga sakit. Jika yang satu berada dalam bahaya, maka saudara kembarnya akan merasakan bahaya itu walaupun ia sedang berada di tempat yang jauh. Karena itu banyak yang percaya kalau pada anak kembar, terdapat hubungan telepatik yang lebih kuat dibanding pada non kembar. Benarkah hubungan telepatik itu nyata..?? Bagaimanakah dunia ilmu pengetahuan menjelaskan hal ini..??

Taiwo dan Kehinde Oyeteju merupakan salah satu contoh keunikan yang terjadi pada saudara kembar. Taiwo dan Kehinde adalah sepasang saudara kembar dari Lagos, Nigeria Taiwo dan Kehinde lahir dari pasangan Oyeteju. Mereka berdua lahir pada tanggal 26 Maret 1982.

Keluarga dan tetangga yang menyaksikan kehidupan mereka sejak kecil menyimpulkan kalau kehidupan Taiwo dan Kehinde unik serta sukar dijelaskan. Mereka berdua masuk sekolah yang sama, lulus pada tahun yang sama dan mereka juga sama-sama mengambil jurusan Keuangan dan Perbankan di Universitas Olabisi Onabanjo.

Sampai disini, kisah mereka masih belum terlalu unik. Namun, kehidupan yang unik mulai terlihat ketika mereka menikah.Mereka menikah pada hari yang sama. Kemudian melahirkan bayi pada hari yang sama di rumah sakit yang sama, yaitu pada tanggal 25 November 2009. Yang berbeda hanyalah jam kelahirannya. Kehinde melahirkan pada jam 2:30 pagi, sedangkan Taiwo melahirkan pada pukul 5:30 pagi. Keduanya sama-sama melahirkan bayi perempuan.

Ini cukup luar biasa. Karena, walaupun mereka mengandung pada hari yang sama, waktu kelahiran bisa berbeda plus atau minus 14 hari. Keunikan Taiwo dan Kehinde ternyata tidak sampai disitu. Tanpa diketahui dan direncanakan bersama, keduanya menamai anak perempuan masing-masing dengan nama depan Elizabeth.

Kisah Taiwo dan Kehinde adalah salah satu contoh dari peristiwa unik yang menyertai saudara kembar lainnya di dunia. Peristiwa-peristiwa ini membuat banyak orang berkesimpulan kalau di antara saudara kembar, ada hubungan yang lebih dalam dibanding sekadar kesamaan wajah. Kadang, orang menyebutnya dengan nama Twin Connection atau Twin Telephaty. Apakah benar ada hubungan telepati di antara saudara kembar? Bagaimana sains menjelaskan fenomena ini?

Eksperimen Pembuktian Telepati

Fenomena Telepati pada saudara kembar sebenarnya cukup menarik perhatian para peneliti. Sejumlah percobaan telah dilakukan untuk membuktikan kebenaran anggapan ini.

Dalam salah satu eksperimen, sepasang saudara kembar dipisahkan dalam ruangan yang berbeda. Satu orang berfungsi sebagai sender (pengirim pesan) dan satu lagi sebagai receiver (penerima pesan).

Lalu, sender diminta untuk memilih satu kartu dari antara satu pak kartu. Kemudian, ia diminta untuk berkonsentrasi pada gambarnya dan mengirimkan bayangannya dengan pikiran kepada saudara kembarnya di ruang sebelah. Lalu, saudara kembarnya yang berfungsi sebagai receiver di ruangan lainnya juga diminta untuk memilih salah satu kartu dari antara satu pak kartu. Hasilnya menunjukkan kalau sang receiver memilih kartu yang sama dengan yang dipilih sender dengan kemungkinan 50%. Hasil ini cukup luar biasa mengingat jumlah kartu berbeda yang cukup banyak di dalam satu pak kartu.

Lalu, eksperimen dilanjutkan, namun kali ini dengan sedikit modifikasi. Kali ini, yang memilih kartu adalah orang lain, bukan sender. Setelah orang itu memilih satu kartu, ia memperlihatkannya kepada sender. Sender diminta untuk mengingat gambar kartu tersebut dan mengirimkannya dengan pikiran kepada receiver di ruang sebelah.

Kali ini, kesamaan kartu yang dipilih receiver turun menjadi hanya 25%. Hasil eksperimen ini membuat para peneliti menyimpulkan kalau tidak ada hubungan telepati di antara saudara kembar. Yang ada hanyalah kesamaan preferensi.

Kesamaan Preferensi

Yang dimaksud dengan kesamaan preferensi adalah, kedua saudara kembar itu memiliki kesamaan hobi, pemikiran, dan kemauan. Ini menyebabkan mereka memiliki pilihan-pilihan yang sama di dalam hidup. Jika kedua hasil eksperimen tersebut menunjukkan persentase hasil yang sama, maka mungkin memang ada hubungan telepati diantaranya. Tapi, ternyata tidak.

Kesamaan preferensi ini bisa dihasilkan karena mereka tumbuh bersama, menjalani kehidupan bersama, bermain bersama sehingga mereka mengembangkan sifat-sifat yang sama. Karena kesamaan yang unik itu, orang-orang akan menyangka ada hubungan telepati diantara mereka.

Dalam kasus eksperimen itu, wajar kalau kedua saudara kembar tersebut tertarik dengan kartu yang sama. Tetapi, ketika orang lain yang memilih kartunya, hasilnya menjadi berbeda karena preferensi pemilih kartu berbeda dengan mereka. Eksperimen sejenis juga dilakukan oleh peneliti lainnya dan memang menyimpulkan kalau tidak ada hubungan telepati di antara saudara kembar.

Dalam kasus kembar Oyeteju di atas, ibu mereka mengatakan kalau Taiwo dan Kehinde saling menyayangi dan suka berbagi. Mereka bahkan suka makan dari piring yang sama dan minum dari gelas yang sama. Ikatan ini telah dibentuk sejak mereka lahir sehingga Taiwo mengenal Kehinde dengan baik, dan sebaliknya. Ini membuat keduanya memiliki hobi, karakter dan kemauan yang sama, dengan kata lain, kesamaan preferensi.

Kesamaan Genetik

Seorang psikolog dari sebuah rumah sakit di Lagos, Dr Rotimi Coker, memberikan sebuah penjelasan sains mengenai bagaimana kesamaan preferensi bisa berkembang pada saudara kembar. Menurutnya, kesamaan ini bisa berkembang bukan hanya karena mereka tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama, melainkan juga karena dipengaruhi oleh faktor genetika.

Menurutnya, ada dua jenis saudara kembar, yaitu kembar Mono-Zygotic dan kembar Di-Zygotic. Kembar Mono-Zygotic adalah kembar yang berasal dari satu sel telur yang sama. Kembar jenis inilah yang sering disebut kembar identik. Di lain pihak, kembar Di-Zygotic berasal dari dua sel telur yang berbeda dan kembar ini disebut kembar tidak identik.

Karena berasal dari sel telur yang sama, kembar Mono-Zygotic memiliki kromosom dan gen yang sama. Ini menyebabkan keduanya memiliki sifat-sifat yang mirip yang menyebabkan keduanya memiliki kesamaan preferensi. Dr Coker juga mengatakan, karena kembar identik memiliki kromosom tertentu yang sama, maka kemungkinan keduanya mengalami sakit yang sama sangat tinggi, bahkan walaupun mereka tidak tinggal serumah.

Pendapat Dr Coker juga disetujui oleh Prof Kayode Oguntuashe dari Universitas Lagos. Menurutnya, kembar identik memang memiliki kumpulan gen yang sama, karena itu mereka akan memiliki pengaturan watak yang sama dalam hal perasaan, pemikiran dan tindakan. Namun, Prof Oguntuashe juga tidak menolak kemungkinan terjadinya perbedaan karena faktor lingkungan.

Dr Lynne Cherkas, seorang analis genetika di Departemen penelitian anak kembar di King’s College, London, adalah salah satu peneliti yang telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya untuk memecahkan misteri anak kembar. Dr Cherkas sendiri adalah kembar non identik. Menurut survei yang dilakukannya, perasaan saling terhubung ternyata lebih kuat pada kembar identik dibanding kembar non identik. Temuan ini sepertinya mengkonfirmasi kesimpulan Dr Coker.

Dr Cherkas berkata: “Anak kembar yang dibesarkan bersama akan mengalami pengalaman sosial yang sama. Gen pastilah memiliki peranan penting dalam pengalaman ‘telepatik’ itu. Kalau tidak, pengalaman ‘telepatik’ pada kembar non identik seharusnya sama banyaknya dengan kembar identik.”

Dengan kesimpulan ini, apakah sains sudah bisa menjawab fenomena “telepatik” pada saudara kembar? Mungkin tidak. Tapi paling tidak kita memiliki sedikit gambaran mengenai fenomena ini.

Menarik untuk mendengarkan pendapat Prof Chris French, kepala peneliti psikologi anomalistik di Universitas London, mengenai fenomena hubungan batin ini. Ia memberikan penjelasan yang lebih prosaik.

Ia berujar, “Orang akan selalu memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka kasihi. Karena itu, pada suatu titik, perasaan itu akan saling mengikat sehingga ketika mereka merasakan sesuatu, maka perasaan itupun akan menjadi kenyataan. Dengan kata lain, ikatan batin yang ada pada saudara kembar bukan hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kesamaan wajah. Ketika kita memiliki perasaan yang saling terhubung, pada suatu titik, perasaan itu akan saling mengikat. Dengan demikian, kitapun menjadi saudara kembar bagi yang lainnya,” tutur sang Profesor.

(BBS)

Semoga Bermanfaat

Salam cinta..cita..harapan

Waktu Saat Ini

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.