JAKARTA, KOMPAS.com — Tak pernah terbayangkan dalam pikiran Teguh Hadi bahwa liburannya di Jakarta bersama keluarga berakhir menjadi kisah tragis. Terlebih lagi putra tunggalnya, Yusuf Sigit, meninggal dalam dekapannya setelah tubuh mungil itu terpental dari gendongan sang ibunda lantaran sebuah mobil Xenia hitam bernomor polisi B 2479 XI menghantam 13 orang pejalan kaki di depan Kantor Kementerian Perdagangan.

Pria yang datang dari Jepara ini menuturkan bahwa sesaat sebelum kejadian, ia dan enam keluarganya hendak berkunjung ke Monas. Sejak pagi, mereka sudah berangkat dari rumah ibu Teguh di daerah Kali Pasir menuju Monas.

“Kami sudah di Jakarta sejak Jumat sore dan menginap di rumah ibu saya di Kali Pasir. Minggu kemarin, anak-anak pengin lihat Monas,” kata Teguh ketika dijumpai di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (23/1/2012).

Rombongan keluarga ini berjalan santai dari arah Tugu Tani menuju Monas dengan posisi Teguh dan keponakannya, Kenny, berada di baris depan. Kemudian istri dan anaknya berada di belakangnya. Lalu adik, bibi, dan keponakannya yang lain di baris paling belakang. Hanya dalam waktu singkat, siang yang menyenangkan bagi keluarga Teguh berubah menjadi siang kelabu.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli ini melihat orang-orang tercintanya tergeletak berlumuran darah di berbagai penjuru. Secara spontan, ia langsung menggendong putranya yang terlempar dari gendongan istrinya. Kemudian, ia menghampiri satu per satu anggota keluarganya yang ternyata sudah tergeletak tak bernyawa dengan kondisi kepala belakang yang tak berhenti mengeluarkan darah. Ia juga terus berusaha membangunkan buah hati dalam dekapannya.

“Saya sudah tidak tahu lagi mobil yang nabrak saya gimana. Yang saya tahu, kami ditabrak setelah mobil itu nabrak anak-anak yang berjalan berlawanan arah dengan kami,” ungkapnya lirih. Yang ia lakukan saat itu hanya ingin segera menyelamatkan anggota keluarganya.

Dalam kondisi panik dan tak percaya bahwa putra semata wayangnya telah tiada, ia masih terus berusaha memberikan botol susu untuk Yusuf. Namun, bocah kecil itu tidak lagi merespons sang ayah dan dengan penuh kasih Teguh masih menggendongnya dan memberikan kecupan pada kening anaknya.

“Ya, mungkin ini jalan dari Tuhan. Sudah dibawa ke Jepara dan saudara-saudara saya yang ngurus. Mau ke sana juga, tapi nanti istri saya siapa yang jaga. Dia juga kehilangan,” ujarnya.

Menurutnya, setelah kondisi istrinya, Siti Mukaromah, membaik dan stabil, ia akan segera kembali ke Jepara dan tetap meneruskan hidup. Kendati demikian, ia masih berharap ada iktikad baik dari pelaku yang mengakibatkan nyawa sembilan orang melayang begitu saja untuk bertanggung jawab.

“Janganlah lewat SMS atau telepon. Tapi datang kemari ke masing-masing keluarga korban. Kami semua tidak tahu apa-apa dan menjadi korban,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, sebuah mobil Xenia hitam bernomor polisi B 2479 XI yang dikendarai Afriyani Susanti menabrak 13 orang pejalan kaki di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, pada Minggu (22/1/2012) pukul 11.00 WIB. Akibat tragedi mengerikan ini, sembilan orang tewas dan lima orang luka-luka.

” Sedih dan menangis rasanya hati ini membayangkan tragedi tgl 22 januari 2012 di Jalan Ridwan Rais, Gambir Jakarta Pusat. Terlebih Yusuf Sigit hampir sama umurnya dengan anak Saya. Selamat Jalan Yusuf Sigit semoga arwah si kecil ini diterima di sisi Allah SWT dan juga buat korban-korban lainnya, untuk keluarga yang ditinggalkan semoga tetap tabah”.